Menakar Spirit Masjid Di Dalam Jiwa-jiwa Pejabat Kita

sumber : spiritnews.co.id

Hampir semua smartphone saat ini terpasang aplikasi whatsapp. Grup-grup Whataspp pun bermunculan. Ada grup urusan pekerjaan dan kantor, ada grup reuni sekolah dan kuliah dan banyak lainnya. Belakang ini grup-grup ini juga ramai membahas perkembangan politik. Maklum, saat tulisan ini dimuat masa ketika disebut tahun politik. Ya, 2018 adalah tahun politik.

Karena Juni 2018 adalah pelaksanaan pilkada serentak. Total 171 melakukan pemilihan kepala daerah. Sebanyak 17 provinsi, 39 kota dan 115 kabupaten yang memilih kepala daerahnya. Tahun Agustus 2018 juga merupakan pendaftaran partai politik peserta pemilu legislatif dan juga pendaftaran calon presiden dan wakil presiden. Hiruk-pikuk tentang politik dan kontestan di dalamnya ramai dibahas di grup-grup itu. Mulai dari partai kesayangan hingga sepak terjang capres-capres. Belum lagi rupa-rupa kampanye dari para caleg. Dari yang culun hingga yang paling narsis. Semua ada.

Grup-grup itu pun ramai membahas sepak terjang para politisi itu. Banyak yang menyesalkan politisi muslim yang tidak membela kepentingan umat Islam. Bahkan ada pejabat negara beragama islam tapi malah membuat kebijakan yang tidak aspiratif dengan kebutuhan umat Islam. Bahkan aparat tinggi negara malah konflik dengan ulama. Dengan kata lain menjadikan para ulama sebagai kriminal dengan tuduhan yang terkesan mengada-ada. Ada pula lembaga riset yang diisi orang Islam malah mendiskreditkan masjid dan syariah Islam.

 

Dengan semua hiruk-pikuk seperti ini, kemudian saya teringat diskusi beberapa pengurus masjid dan pimpinan yayasan pendidikan Islam di Surabaya. Saat itu sekitar 2015. Kira-kira setahun setelah pemerintah baru pascapemilu 2014. Pemerintah baru, kabinet baru, menteri baru dan pejabat baru setelah 10 tahun Kabinet Indonesia Bersatu 1 dan 2 era Presiden SBY.

Mengemuka pertanyaan: mengapa banyak pejabat muslim namun malah berlawanan dengan banyak aspirasi umat Islam? Dengan kata lain, mengapa para pimpinan tinggi negara itu tidak mengutamakan kepentingan umat Islam yang besar ini? Dimana akar masalahnya? Tanpa mencari tudingan dan tuduhan ke pihak luar, lebih bijak kita evaluasi diri. Evaluasi dalam umat Islam sendiri. Umat yang besar di negeri yang besar ini.

Lalu pertanyaan itu berkembang ke pertanyaan: sosok seperti apakah para pejabat muslim itu? Seperti apa masa kecilnya? Dimana sekolahnya? Lebih sering bergaul dengan siapa saja sebelum jadi pimpinan tinggi negara?

Lalu pertanyaan turunan ini dihubungkan dengan masjid: seberapa intens dulu mereka itu bermain dan belajar di masjid? Atau kita balik pertanyaannya: seberapa besar andil masjid dalam membentuk jiwa mereka?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita ambil pengalaman berharga dari sosok Dr. Syafii Antonio. Ia adalah seorang pakar ekonomi syariah, tidak hanya pakar di Indonesia namun sudah setingkat internasional. Ia sering menjadi narasumber islamic banking dan islamic finance di Malaysia, Asia dan Eropa. Bahkan ia diangkat menjadi presdir di bank Islam Uni Emirat Arab. Ia juga mendirikan Tazkia Institute, kampus ekonomi syariah di Bogor. Ia juga aktif berceramah, menulis dan menerbitkan buku. Ia sosok yang ilmuwan muslim yang ideal. Contoh terbaik bagi umat Islam di bidangnya saat ini.

Mari kita tengok masa lalunya. Ia lahir dan besar di keluarga keturunan etnis Tionghoa. Sampai tulisan ini dibuat ayahnya seorang biksu Budha. Sang ibu alhamdulillah sudah menerima hidayah dan masuk Islam. Ia punya saudara yang juga pimpinan kampus swasta di Indonesia.

Dr. Syafii bercerita bahwa dia masuk Islam ketika SMA. Kemudian ia mempelajari Islam. Lalu ada kesempatan untuk kuliah ekonomi Islam di Yordania. Ia tak ada biaya untuk berangkat di sana. Lalu ada kenalan yang juga pengurus masjid di Bogor (atau Jakarta saya lupa) merasa simpatik dengan Syafii muda.

Lantas kenalan itu memberi pengumuman kepada seluruh jamaah masjid untuk urunan mengumpulkan dana untuk membiayai Syafii muda. Alhamdulillah dana terkumpul dan berangkat Syafii Antonio dan dengan izin Allah kini ia menjadi salah satu ulama dan cendekiawan muslim terkemuka di tanah air dan bahkan di mancanegara.

Inilah yang disebut Ini menanam benih. Sehingga spirit ‘masjid’ tertanam di jiwa Syafii Antonio sejak belia. Maka jika saat ini masjid-masjid di Indonesia yang jumlahnya 800 ribu ini tidak menanam spirit ini ke anak-anak muslim, maka siap-siap kita gigit jari. Jiwa anak-anak itu akan diisi spirit dari pihak lain yang naudzubillah jika spirit-spirit kontraislam.

Spirit apa yang tertanam di jiwa-jiwa para menteri muslim kita, para jenderal, para ilmuwan, para wartawan, para pengusaha dan kepala daerah itu? Kini saatnya berbenah diri. Siapkan spirit masjid pada diri pengurusnya dan kemudian spirit itu kita teruskan ke anak-anak kita.

Jika anak-anak TPQ atau TPA itu ulang tahun, jika lulus jenjang, naik kelas, sunat bagi yang laki, atau meraih prestasi apapun, maka harus masjidlah yang pertama dan utama memberi selamat dan memberi hadiah. Pasti mereka akan mengenang itu sepanjang hayat dan akan membawa spirit perjuangan masjid di jiwa mereka.

Jangan biarkan mereka jauh dari masjid. Jangan habiskan uang kas masjid hanya untuk membiayai bangunannya saja. Sisihkan dana secara rutin untuk menanam benih di jiwa jamaah khususnya anak-anak. Karena benih itu pasti tumbuh dan berkembang dan memberi manfaat bagi penanamnya. Wallahu a’lam bish Showab.

Penulis : Oki Aryono Simpatisan SMI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *